Selasa, 05 Agustus 2008

MENUTUP RAMBUT BAGI WANITA


MENUTUP RAMBUT BAGI WANITA
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

PERTANYAAN

Ada sebagian orang mengatakan bahwa rambut wanita tidak
termasuk aurat dan boleh dibuka. Apakah hal ini benar dan
bagaimana dalilnya?

JAWAB

Telah menjadi suatu ijma' bagi kaum Muslimin di semua negara
dan di setiap masa pada semua golongan fuqaha, ulama,
ahli-ahli hadis dan ahli tasawuf, bahwa rambut wanita itu
termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di
hadapan orang yang bukan muhrimnya.

Adapun sanad dan dalil dari ijma' tersebut ialah ayat
Al-Qur'an:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah
mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya,
dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali
yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudung ke dadanya, ..."
(Q.s. An-Nuur: 31).

Maka, berdasarkan ayat di atas, Allah swt. telah melarang
bagi wanita Mukminat untuk memperlihatkan perhiasannya.
Kecuali yang lahir (biasa tampak). Di antara para ulama,
baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa
rambut wanita itu termasuk hal-hal yang lahir; bahkan
ulama-ulama yang berpandangan luas, hal itu digolongkan
perhiasan yang tidak tampak.

Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mengatakan, "Allah swt. telah
melarang kepada kaum wanita, agar dia tidak menampakkan
perhiasannya (keindahannya), kecuali kepada orang-orang
tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak."

Ibnu Mas'ud berkata, "Perhiasan yang lahir (biasa tampak)
ialah pakaian." Ditambahkan oleh Ibnu Jubair, "Wajah"
Ditambah pula oleh Sa'id Ibnu Jubair dan Al-Auzai, "Wajah,
kedua tangan dan pakaian."

Ibnu Abbas, Qatadah dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata,
"Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan
dan cincin termasuk dibolehkan (mubah)."

Ibnu Atiyah berkata, "Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai
dengan arti ayat tersebut, bahwa wanita diperintahkan untuk
tidak menampakkan dirinya dalam keadaan berhias yang indah
dan supaya berusaha menutupi hal itu. Perkecualian pada
bagian-bagian yang kiranya berat untuk menutupinya, karena
darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan."

Berkata Al-Qurthubi, "Pandangan Ibnu Atiyah tersebut baik
sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di
waktu biasa dan ketika melakukan amal ibadat, misalnya
salat, ibadat haji dan sebagainya."

Hal yang demikian ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan
oleh Abu Daud dari Aisyah r.a. bahwa ketika Asma' binti Abu
Bakar r.a. bertemu dengan Rasulullah saw, ketika itu Asma'
sedang mengenakan pakaian tipis, lalu Rasulullah saw.
memalingkan muka seraya bersabda:

"Wahai Asma'! Sesungguhnya, jika seorang wanita
sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi
dirinya menampakkannya, kecuali ini ..." (beliau
mengisyaratkan pada muka dan tangannya).

Dengan demikian, sabda Rasulullah saw. itu menunjukkan bahwa
rambut wanita tidak termasuk perhiasan yang boleh
ditampakkan, kecuali wajah dan tangan.

Allah swt. telah memerintahkan bagi kaum wanita Mukmin,
dalam ayat di atas, untuk menutup tempat-tempat yang
biasanya terbuka di bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah
"kain untuk menutup kepala," sebagaimana surban bagi
laki-laki, sebagaimana keterangan para ulama dan ahli
tafsir. Hal ini (hadis yang menganjurkan menutup kepala)
tidak terdapat pada hadis manapun.

Al-Qurthubi berkata, "Sebab turunnya ayat tersebut ialah
bahwa pada masa itu kaum wanita jika menutup kepala dengan
akhmirah (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang,
sehingga dada, leher dan telinganya tidak tertutup. Maka,
Allah swt. memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu
dada dan lainnya."

Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah r.a. telah berkata,
"Mudah-mudahan wanita yang berhijrah itu dirahmati Allah."

Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya
untuk menutupi apa yang terbuka.

Ketika Aisyah r.a. didatangi oleh Hafsah, kemenakannya, anak
dari saudaranya yang bernama Abdurrahman r.a. dengan memakai
kerudung (khamirah) yang tipis di bagian lehernya, Aisyah
r.a. lalu berkata, "Ini amat tipis, tidak dapat
menutupinya."

---------------------------------------------------
Fatawa Qardhawi: Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Cetakan Kedua, 1996
Penerbit Risalah Gusti
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177

Sulitnya membuat singkatan (akronim) dalam Bahasa Indonesia

Bahasa menunjukan Bangsa, demikian kata pepatah atau peribahasa yang umum berlaku, ini akan dimengerti oleh orang yang pernah berkelana atau bepergian keluar daerah, wilayah ataupun keluar negara, jika terdengar kata "matur nuwun" misalnya, sudah dipastikan itu adalah bahasanya orang Jawa yang arti dalam Bahasa Indonesianya adalah terima kasih, jika terdengar kata "thank you" mislanya, dipastikan itu adalah bahasanya orang Inggeris.

Bahasa Indonesia adalah Bahasa Nasional, untuk Kesatuan dan Persatuan Republik Indonesia yang telah dicanangkan dalam Sumpah Pemuda yang dikumandangkan pada 28 Oktober 1928 yang lalu, dan hingga kini masih tetap utuh sebagai Bahasa Nasional yang digunakan oleh lebih dari 200 juta orang dari Sabang hingga Meurauke.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada bahasa ini, kenyataan membuktikan bahwa Bahasa ini sangat rentan dipengaruhi oleh berbagai bahasa lain, dan juga sangat sulit untuk mengemukakan hal-hal yang dimensional tambahan lagi sangat sulit untuk membuat singkatan atau akronim untuk penamaan panjang yang memerlukan singkatan, kenapa?

Pertama : Mengapa mudah dipengaruhi oleh Bahasa lain.

Bahasa Indonesia yang pada dasarnya adalah bahasa melayu adalah suatu bahasa yang miskin akan istilah dan penamaan, baik penamaan benda atau istilah lainnya contoh sederhana untuk kata ayam, ayam jantan, ayam betina anak ayam, ayam muda, tetap saja menggunakan ayam ditambah dengan kata sifat lain dibelakangnya, berbeda dengan bahasa Inggris misalnya : ayam jantan adalah coock, ayam betina adalah hen, anak ayam adalah chick, atau dalam bahasa Jawa : Jago untuk ayam jantan, babon untuk ayam betina yang sudah bertelor, dere` untuk ayam betina yang belum bertelor, kutuk untuk sebutan anak ayam.

Kemudian untuk tata nama buah misalnya kelapa, dalam bahasa Indonesia mulai dari bunga kelapa, pentil kelapa, kelapa muda dan kelapa tua, semuanya menggunakan kata dasar kelapa ditambah dengan kata sifat yang melekat, berbeda dengan bahasa Jawa, manggar untuk bunga kelapa, mbuluk untuk pentil kelapa, cengkir untuk kelapa muda yang belum berdaging, degan untuk kelapa muda, klapa untuk kelapa dan kiring untuk kelapa yang sudah tua (berkulit coklat kering).

Kedua Bahasa Indonesia adalah Bahasa emosi jadi dalam bertutur atau berucap pemaknaan sering kali berbeda bila suaatu kalimat yang sama diberi tekanan ucapan yang berbeda, contoh bila kita bersama orang lain kemudian kita mengajak untuk pergi ke kebun binatang dengan ajakan : Ayo kita pergi ke kebun binatang!, ini akan berbeda bila kita mengucap : Ayo kita pergi ke kebun binatang! dengan tekanan yang lebih pada kata binatang, maka hasil ucapan itu akan berbeda, ini akan lain dengan bahasa Inggreis : Let's we go to the zoo, pada kata apapun tekanan kata itu terucap hasilnya akan tetap sama yaiatu ajakan untuk pergi ke kebun binatang.

Ketiga Bahasa Indonesia masih memiliki sistem awalan dan akhiran yang mana suatu kata dasar bila diberi awalan, akhiran atau keduanya maknanya bisa jadi berubah, contoh, kata "bakar", diberi awalan ke- menjadi kebakar, diberi awalan dan akhiran Ke - an menjadi kebakaran, dan ini akan menyulitkan bila akan diubat suatu akronim misalnya untuk suatu instansi yang mengurusi soal api, menjadi DPK (Dinas Pemadam Kebakaran), tapi juga sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan meski kata dasarnya jauh berbeda yakni padam dan bakar sedang yang lin adalah didik dan budaya, berbeda dengan bahasa Inggeris : Fire Brigade (FB) untuk Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) dan Institute of Culture and Education (ICE) untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Mari simak singkatan-singkatan dalam Bahasa Indonesia yang pada akhirnya akan dijumpai kata-kata yang lucu bahkan janggal :

AMD = ABRI masuk Desa, padahal ABRI sendiri adalah singkatan, jadi dalam akronim AMD terdapat singkatan dari singkatan
FKPPI = Forum Komunikasi Putra/Putri Purnawiraan TNI dan POLRI Indonesia, jangan dicari karakter mana menjadi singkatan apa karena ini adalah singkatan yang paling amburadul.
Pentilkecakot = Penjaga Tilpun Kecamatan Kota.
Pentilkecepit = Penjaga Tilpun Kecamatan Pingit
Mabes = Markar Besar bisa juga Mangga Besar
Lapter = Lapangan Terbang bisa juga Laporan Tertulis
dan masih banyak lagi singkatn yang lucu-lucu

Lebih sulit lagi bila akan menyingkat suatu tata nama yang panjang atau nama lembaga/institusi, ini bisa terlihat dari betapa rumitnya nama institusi dan departemen di negeri ini seperti Dephukham, Dephan, Deptan, Depkes, Depnakertrans, Deperind, dan banyak lagi singkatan yang kadang sulit baik untuk diingat maupun untuk diucapkan, dan secara psikologis bahasa tercermin kepada perilaku bangsa itu sendiri.

Kamis, 28 Juni 2007

Siapa Fauzi Bowo?

http://caninews.com/out_of_the_box/article.php?article_id=148

Memberdayakan Alumni Menyongsong Delapan Dasawarsa Kolese Kanisius Itulah Tema Kongres PAKKJ 2006 yang sekaligus menjadi tema program kerja DPP PAKKJ 2006-2009. Kongres PAKKJ 2006 yang diadakan di sekolah Kolese Kanisius Menteng Raya pada hari Minggu 13 Agustus 2006 itu dihadiri sekitar 140 lebih alumni.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina, Fauzi Bowo (alumnus 1967) menyampaikan bahwa kongres PAKKJ yang diadakan setiap tiga tahun sekali diantaranya memilih formatur yang nantinya dalam rapat formatur menetapkan Ketua Umum PAKKJ untuk periode tiga tahun berikutnya.
"Rasanya cepat sekali tiga tahun perjalanan kepengurusan PAKKJ ini. Sekalipun demikian sudah cukup banyak program kegiatan yang melibatkan alumni " ujarnya.

Diutarakan juga mengenai kepengurusan untuk periode 2006 - 2009 yang diupayakan dapat dibentuk melalui mekanisme penjaringan alumni. "Jangan hanya pas kongres saja rebutan jadi pengurus, tapi abis itu malah jadi urusan" kata Fauzi Bowo

Sedangkan Ketua Yayasan Budi Siswa, Romo Suryosudarmo SJ, dalam sambutannya menyampaikan agar kita semua kembali memperhatikan Anggaran Dasar PAKKJ dimana PAKKJ memiliki peran sentral dalam mendukung pengembangan pendidikan di Kolese Kanisius.
Ia juga menyebutkan secara tegas bahwa memasuki usia sepuluh windu atau delapan dasawarsa, Kolese Kanisius dihadapkan pada tantangan apakah masih mampu menjadi pusat keunggulan pendidikan di Indonesia dan masih mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan Indonesia dimasa datang.

"Provinsial Serikat Jesus telah bertekad mengembangkan Kolese Kanisius menjadi sebuah sekolah internasional. Kampus sekolah yang saat ini ada sudah kurang memadai. Kita ingin merevitalisasi Kolese Kanisius. Keterlibatan aktif alumni melalui PAKKJ untuk merealisasikannya menjadi sangat penting" kata Romo Suryo, panggilan akrabnya.

Usai acara resmi pembukaan kongres dan setelah reses dua kali untuk mencapai kuorum, Michael Tedja selaku Ketua Umum PAKKJ 2003 - 2006 menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada peserta kongres.

Tanpa ada pertanyaan berkaitan dengan laporan pertanggungjawaban, acara kongres dilanjutkan dengan penjelasan garis-garis besar program kerja pengurus PAKKJ 2006 - 2009. Ini adalah sesuatu yang baru pertama kali dimunculkan dalam kongres PAKKJ. Dengan penjelasan ini kita dapat mengetahui sasaran program dan hasil yang harus dicapai dalam periode kepengurusan PAKKJ 2006 - 2009. Selain itu juga menjadi pedoman yang wajib dijalankan oleh siapapun yang nantinya menjadi pengurus.
Yang paling dinantikan akhirnya tiba juga saat Phoa Bing Hauw (alumnus 1982) sebagai pimpinan sidang mengundang alumni peserta kongres untuk menjadi calon formatur.

Suasana kongres seketika menjadi meriah, setelah sebelumnya "dininabobokan" dengan uraian laporan dan program kerja. Mulailah beberapa alumni meneriakan nama yang dijagokan untuk menjadi calon formatur.

Akhirnya tampil empat orang yaitu J.Dwihartanto (alumnus 1980, Sekjen DPP PAKKJ 2003 - 2006), Doddy (alumnus 1981), Albertus Pratomo aka Tomi (alumnus 1984) dan Prasodjo Winarko (alumnus 1986). Pemilihan pun langsung berjalan dan hasilnya langsung dihitung.

Sesuai anggaran dasar, hanya ada dua orang calon yang masuk sebagai formatur yang dipilih berdasarkan suara terbanyak. Dari 134 alumni yang memberikan suaranya muncul Prasodjo (57 suara), J.Dwihartanto (43 suara) dan Tomi (33 suara).

Rampung penghitungan suara, kongres rehat sejenak untuk memberikan kesempatan peserta rapat makan siang. Sambil kongkow-kongkow ngalor ngidul, seluruh alumni yang hadir menantikan siapa gerangan yang dipilih dalam rapat formatur menjadi Ketua Umum PAKKJ 2006 - 2009.

Tepat pukul 13.30 siang, seluruh formatur telah menyelesaikan rapatnya dan kongres dibuka kembali. Fauzi Bowo langsung mengumumkan susunan Dewan Pembina dan setelah itu mengumumkan Ketua Umum, Sekretaris Jenderal dan Bendahara.

Dewan Pembina
Ketua : Fauzi Bowo (67)
Anggota : Romo Suryosudarmo SJ Michael Tedja (79)
Rhenald Kasali (80)
Akmal Taher (73)
Dewan Pengurus
Ketua Umum : J. Dwihartanto (80)
Sekretaris Jenderal : Phoa Bing Hauw (82)
Bendahara : Sebastian "Basye" Juwana (76)

Setelah pengumuman dilangsungkan serah terima jabatan dan kongres langsung ditutup.

Selamat bekerja untuk Dewan Pengurus Pusat PAKKJ 2006 - 2009. Semoga semua yang menjadi sasaran program kerja pengurus dapat diwujudkan.

Dr. Ing H Fauzi Bowo (lahir Jakarta, 10 April 1948) adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta pada saat ini. Pada pilkada DKI Jakarta 2007, Fauzi Bowo mencalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia mengungguli Agum Gumelar dan Mahfud Djailani dalam penjaringan calon gubernur oleh PPP DKI Jakarta dengan 14 suara. Agum meraih lima suara, sedang Djailani mendapat dua suara. Dua suara lain menyatakan abstain.

Namun, dalam skorsing terhadap enam kandidat calon gubernur yang mengajukan diri ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, ia menempati urutan paling terakhir. Dalam skorsing itu, ia meraih 80 suara. Sedang, urutan teratas ditempati oleh Sarwono Kusumaatmadja.

Banjir besar di Jakarta pada awal bulan Pebruari 2007 telah membuat nama Fauzi Bowo terpuruk dan mulai disingkirkan oleh Partai-Partai Politik yang ada. Fauzi Bowo dan Gubernur Sutiyoso dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya banjir besar di hampir seluruh wilayah ibukota DKI Jakarta, sehingga dari segi popularitas nama Fauzi Bowo sangat tidak menjual dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta 2007.

Pada 22 Januari 2007, Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyampaikan hasil jajak pendapat terhadap 700 responden pada minggu ketiga Desember 2006 dengan cara tatap muka. Hasil jajak pendapat LSI untuk calon Gubernur DKI adalah Fauzi Bowo, Rano Karno, Agum Gumelar, Sarwono Kusumaatmadja, Adang Daradjatun, dan Bibit Waluyo.

Ia mengikuti Konvensi Partai Golkar 2007. Ia adalah satu-satunya peserta konvensi yang mengembalikan formulir pendaftaran dan satu-satunya peserta yang diusung untuk jabatan gubernur. Ia juga menjadi salah satu calon gubernur yang dicalonkan Partai Bintang Reformasi. Selain menerima dukungan secara khusus dari Din Syamsudin dan Partai Damai Sejahtera.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Fauzi_Bowo

Rabu, 27 Juni 2007

Pendapat Toko-tokoh Non Muslim terhadap Kitab Bibel

1. Dr. Mr. D. N. Mulder dalam bukunya "Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama", tahun
1963, pagina 12 dan 13, berkata sebagai berikut: "Buku ini dikarang pada waktu-waktu
tertentu, dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh
keadaan waktunya dan oleh suasana di sekitarnya dan oleh pembawaan pengarang itu
sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah tidak ada Iagi. Yang ada pada kita
hanya turunan atau salinan. Dan salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli,
melainkan dari salinan dan seterusnya. Sering di dalam menyalin Kitab Suci itu terseliplah
salah salin."

2. Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya "Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru", tahun
1966, pagina 24 dan 25, berkata sebagai berikut: "Ada kalanya penyalin tersentuh pada
kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal
perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli.
Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan penyesuaian
salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara
salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam Gereja."

3. Dr. B. J. Boland dalam bukunya "Het Johannes Evangelie", p. 9, berkata sebagai berikut:
"Zijn ons de waarheden van het Evangelie van Jesus Christus in haar corspron-kelijken
onvervalschen, zul veren vorm overgeleverd of zijn de door het intermediair van den Griek
schen Geest, van de Griek sche reid, het laat stea an te nemen...dat de letter der Nieuw-
Testament-ische boeken in de eerste eeuwen anzer jaartelling gewichtig wijzungen moet
hebben ondergaan."Artinya: Apakah kebenaran-kebenaran dari Injil Jesus Kristus
diserahkan kepada kita dalam bentuk murninya, asli dan tidak dipalsukan, ataukah telah
dirubah melalui alam fikiran kebudayaan Gerika? Umumnya yang terakhirlah yang diterima
oleh orang jaman kini... bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama
perhitungan tahun kita, pasti telah mengalami perubahan besar.

4. Dr. A. Powel Daviesdalam bukunya "The meaning of the Dead Sea Scrolls The New American
Library" tahun 1961 , p. 106, berkata: "The first three, or Synoptic Gospels tell much the
same story. There are discrepancies; but it is impossible to a considerable extent to reconcile
them. John's Gospel, however, tells quit a different story from the other three. If John is right,
then the other three are wrong; If the Synoptic are right, the John's gospel must surely be in
error."Artinya: Tiga Injil pertama, yaitu Injil Synoptik, membawakan cerita yang sama.
Terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya, sehingga tidaklah mungkin sedemikian
jauh untuk mendamaikan ayat-ayat ini. Namun Injil Johannes, menceritakan cerita-cerita
yang amat berbeda dari ketiga Injil pertama itu. Bila Injil Johannes yang betul, maka ketiga
Injil yang lain itu salah; bila ketiga Injil itu betul, maka Injil Johannes pasti salah.

5. Dr. G. C. Vari Niftrik dan Dr. B. J. Boland dalam bukunya "Dogmatika Masakini",
cetakan ketiga; tahun 1978, p. 322, berkata sebagai berikut: "Kita tidak usah merasa malu
bahwa terdapat pelbagai kekhilafan di dalam Al-Kitab; kekhilafan tentang angka-angka,
perhitungan-perhitungan tahun dan fakta-fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan
kekhilafan-kekhilafan itu berdasarkan caranya isi Al-Kitab telah disampaikan kepada kita,
sehingga dapat kita berkata: dalam naskah asli tentulah tidak terdapat kesalahan-kesalahan,
tetapi kekhilafan-kekhilafan itu barulah kemudiannya terjadi di dalam turunan-turunan
(salinan-salinan-pen) naskah itu."

6. Herman Bakels (1871-1954) dalam bukunya "Nij Ketters? Ya.. Om deere Gods", p. 119-
120, lewat buku "Dialog antara Ahmadiyah dengan saksi-saksi Yehowa", p. 83 dan 88 berkata
sebagai berikut: "De andere ses Bijbels (Weda, Awesta, de boeken over Boedha, Tao-teking,
Confusius boeken, Kor'an) ken ik niet genoeg...Van onzen Bijbel weet ik dit zeker. Ik heb hem
dertig jaar lang van voren tot achteren doorploeterd. En ik zeg rondement; ik kan in Europa
geen boek dat meer stikvol dingen-die-niet-waar-zijn zit dan de Bijbel."Artinya: Adapun
enam buah kitab (Weda, Awesta, Kitab-kitab tentang Budha, Tao-teking, Kitab-kitab
Confusius, Al-Qur'an) tidak begitu saya kenal. Akan tetapi Bijbel kita ini, pasti saya ketahui.
Sudah 30 tahun lamanya saya mengincah Bijbel kita ini dari awal sampai akhir. Oleh karena
itu terus terang saya katakan, bahwa di Eropa, saya belum kenal sebuah kitab yang lebih
padat dengan hal-hal yang tidak benar dari pada Bijbel.Dia juga berkata:"Bijna alle koeken zijn
er misleidend, nipseudepigra fisch. D.W.Z. niet geschreven door de auteurs op wier namen
zestaan, maar wel later geschreven."Artinya: Hampir semua kitab-kitab dalam bibel itu
menyesatkan, yakni memakai nama. palsu, yaitu tidak ditulis oleh pengarang-pengarang yang
tercantum nama mereka di atasnya, melainkan ditulis jauh di belakang mereka.

7. Surat kabar di Ghana, yaitu Harian Times, 24 Juni 1964 yang dimuat oleh harian
Mercusuar Yk. tertanggal 31-8-1968; Mr. RT. Payet, di dalam parlemen inggris tahun 1964
mengusulkan kepada Pemerintah Inggris dalam hal ini The British Home Secretary agar Injil
dilarang beredar. Salah satu di antara sebabnya seperti yang ia katakan sebagai berikut: "I
know of no book in history which could compare with the Bible as a source of brutality and s
adistic conduct.Artinya: Tidak ada di dalam sejarah satu buku yang merupakan sumber dari
perbuatan-perbuatan yang brutal dan sadis selain Injil ini. (I. Sudibya Markus dalam buku
"Dialog Islam-Nasrani dan Usul Pelanggaran Injil di Inggris", terbitan Potrosari Ler. 28 Mgl.).

8. Prof. Herbert J. Muller dalam buku "The Uses of the Past, p. 168 lewat bukunya O.
Hashem,
"Marxiesme dan Agama", tahun 1965, Japi Surabaya, p. 45, berkata: "Scholars regard this
text ( I Johannes 5:7) as a later interpolation however, since it does not appear in the best
manuscripts."Artinya:Para sarjana menganggap bahwa naskah ini ( I Johannes 5:7) adalah
suatu sisipan/tambahan kemudian, karena ayat seperti ini tidak diketemukan pada
manuskrip-manuskrip terbaik.

9. Kata Herman Bakel dan Dr. A. Powel Davies
"Injil Matius 28:19 dan Injil Markus 16:9-19
adalah sisipan. Bacalah bukunya." (Hashem, "Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Dr. J.
Verkuyl," terbitan JAPI, Surabaya, tahun 1969, halaman 94).

(Sumber Milis Iqra)

Rahasia dibalik perkawinan Nabi Muhammad

Ketika orang-orang mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW mempunyai banyak istri semasa hidupnya, banyaklah timbul suara-suara yang sumbang kearah Nabi Muhammad SAW.
Padahal, kalau mereka mau menelaah lebih dalam untuk mengetahui apa rahasia dibalik perkawinan Nabi Muhammad SAW, niscaya mereka akan mengerti dan memaklumi adanya bahkan akan memuji kepintaran strategi dari Nabi besar Muhammad SAW, yaitu : “political and social motives”.


Perkawinan pertamanya dengan Khadijah dilakukan ketika dia berumur 25 tahun dan Khadijah berumur 40 tahun. Selama hampir 25 tahuh, Nabi SAW hanya beristrikan Khadijah, sampai Khadijah meninggal dunia diumur 65 tahun (semoga Allah memberkahinya).
Hanya setelah Nabi SAW berumur lebih dair 50 tahun, barulah nabi SAW mulai menikah lagi. Dengan demikian jelaslah bahwa jika memang Nabi SAW hanya mencari kesenangan semata, tentulah tidak perlu beliau menunggu sampai berusia lebih dari 50 tahun, baru menikah lagi. Tapi Nabi Muhammad SAW tetap mencintai Khadijah selamaa 25 tahun, sampai Khadijah meninggal dunia di usia 65 tahun.
Perkawinannya selanjutnya mempunyai banyak motive. Beberapa perkawinan adalah dengan tujuan membantu wanita yang suaminya baru saja terbunuh didalam membela Islam. Yang lain adalah demi menambah dan mempererat hubungan dengan salah satu pendukung fanantik Islam, Abu Bakr (semoga Allah memberkahinya).
Ada juga dalam upaya membangun hubungan yang baik dengan suku-suku lain yang semula berniat memerangi Islam. Sehingga ketika Nabi SAW mengawininya, maka perang pun terhindarkan dan darah pun tak jadi tumpah.
Setidaknya, ada Professor Non-Muslim yang berkesempatan mempelajari secara langsung mengenai sejarah dan kehidupan Nabi Muhammad SAW berkesimpulan yang berbeda dengan kesimpulan kaum non-muslim lainnya.
John L. Esposito, Professor Religion and Director of Center for International Studies at the College of the holly cross, mengatakan bahwa hampir keseluruhan perkawinan Nabi Muhammad SAW adalah mempunyai misi sosial dan politik (political and social motives) (Islam The straight Path, Oxford University Press, 1988).
Salah seorang non-muslim lainnya, Caesar E. Farah menulis sebagai berikut: “In the prime of his youth and adult years Muhammad remained thoroughly devoted to Khadijah and would have none other for consort”.
Caesar Farah pun berkesimpulan bahwa perkawinan Nabi Muhammad SAW lebih karena alasan politis dan alasan menyelamatkan para janda yang suaminya meninggal dalam perang membela Islam.
Sehingga memang jika melihat lagi ke sejarah, maka dapatlah diketahui apa alasan sebenarnya perkawinan nabi Muhammad SAW.
Berikut ini kita tampilkan nama-nama Istri Nabi Muhammad SAW beserta sekilas penjelasannya:


(1). Khadijah: Nabi mengawini Khadijah ketika Nabi masih berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah berumur 40 tahun. Khadijah sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi SAW. Suami pertama Khadijah adalah Aby Haleh Al Tamimy dan suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy, keduanya sudah meninggal sehingga menyebabkan Khadijah menjadi janda. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun. Khadijah meninggal pada tahun 621 A.D, dimana tahun itu bertepatan dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Nabi SAW sangatlah mencintai Khadija. Sehingga hanya setelah sepeninggalnya Khadijah lah Nabi SAW baru mau menikahi wanita lain.


(2). SAWDA BINT ZAM’A: Suami pertamanya adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz, yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia. Umur Sawda Bint Zam’a sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi SAW menikahinya.


(3). AISHA SIDDIQA: Seorang perempuan bernama Kholeah Bint Hakeem menyarankan agar Nabi SAW mengawini Aisha, putri dari Aby Bakrs, dengan tujuan agar mendekatkan hubungan dengan keluarga Aby Bakr. Waktu itu Aishah sudah bertunangan dengan Jober Ibn Al Moteam Ibn Oday, yang pada saat itu adalah seorang Non-Muslim. Orang-orang di Makkah tidaklah keberatan dengan perkawinan Aishah, karena walaupun masih muda, tapi sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang tanggung jawab didalam sebuah perkawinan. Nabi Muhammad SAW bertunangan dulu selama 2 tahun dengan Aishah sebelum kemduian mengawininya. Dan bapaknya Aishah, Abu Bakr pun kemudian menjadi khalifah pertama setelah Nabi SAW meninggal.


(4). HAFSAH BINT U’MAR: Hafsah adalah putri dari Umar, khalifah ke dua. Pada mulanya, Umar meminta Usman mengawini anaknya, Hafsah. Tapi Usman menolak karena istrinya baru saja meninggal dan dia belum mau kawin lagi. Umar pun pergi menemui Abu Bakar yang juga menolak untuk mengawini Hafsah. Akhirnya Umar pun mengadu kepada nabi bahwa Usman dan Abu Bakar tidak mau menikahi anaknya. Nabi SAW pun berkata pada Umar bahwa anaknya akan menikah demikian juga Usman akan kawin lagi. Akhirnya, Usman mengawini putri Nabi SAW yiatu Umi Kaltsum, dan Hafsah sendiri kawin dengan Nabi SAW. Hal ini membuat Usman dan Umar gembira.


(5). ZAINAB BINT KHUZAYMA: Suaminya meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Dia sudah tua ketika nabi SAW mengawininya. Dia meninggal 3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 A.D.


(6). SALAMA BINT UMAYYA: Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dan anak-anaknya dalam keadaan miskin. Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia mengawini nya, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak. Baru setelah Nabi Muhammad SAW mengawininya dan merawat anak-anaknya, dia bersedia.


(7). ZAYNAB BINT JAHSH: Dia adalah putri Bibinya Nabi Muhammad SAW, Umamah binti Abdul Muthalib. Pada awalnya Nabi Muhammad SAW sudah mengatur agar Zaynab mengawini Zayed Ibn Hereathah Al Kalby. Tapi perkawinan ini kandas ndak lama, dan Nabi menerima wahyu bahwa jika mereka bercerai nabi mesti mengawini Zaynab (surat 33:37).


(8). JUAYRIYA BINT AL-HARITH: Suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan. Nabi Muhammad SAW menghendaki agar kelompok dari Juayreah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juayreah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq). Bapak Juayreyah datang pada Nabi SAW dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juayreyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juayreayah untuk memilih. Ketika diberi hak untuk memilih, Juayreyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam.


(9). SAFIYYA BINT HUYAYY: Dia adalah dari kelompok Jahudi Bani Nadir. Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi SAW. Cerita nya cukup menarik, mungkin Insha Allah disampaikan terpisah.


(10). UMMU HABIBA BINT SUFYAN: Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish. Dia adalah anak dari Bibi Rasulullah SAW. Aubed Allah meninggak di Ethiopia. Raja Ethiopia pun mengatur perkawinan dengan Nabi SAW. Dia sebenarnya menikah dengan nabi SAW pada 1 AH, tapi baru pada 7 A.H pindah dan tinggal bersama Nabi SAW di Madina, ketika nabi 60 tahun dan dia 35 tahun.


(11). MAYMUNA BINT AL-HARITH: Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad SAW yang sudah 60 tahun. Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey. Ketika Nabi SAW membuka Makkah di tahun 630 A.D, dia datang menemui Nabi SAW, masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya. Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi SAW.


(12). MARIA AL-QABTIYYA: Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi SAW meninggal dunia, dan akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Iman sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi.


Kalau sudah tahu begini dan kalau memang dikatakan mau mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW, kira-kira masih minat dan berani nggak ya kaum Adam untuk ber-istri lebih dari 1?
(sumber: anwary-islam.com)